Hmm… saya jelas telah gagal memenuhi “ambisi” saya untuk menulis setidaknya satu tulisan tiap dua hari di blog ini. Tapi memang belakangan ini begitu banyak hal terjadi yang mengakibatkan saya merasa enggan menyia-nyiakan meluangkan waktu untuk aktivitas menulis ini. Bukan berarti saya tidak mau lagi menulis, tetapi memang acapkali rasa letih maupun anggapan bahwa ada hal-lain-yang-lebih-penting membuat saya urung menambah tulisan di blog ini. Padahal sebenarnya banyak juga hal-hal menarik yang bisa dan ingin saya bagi ke para netters yang kebetulan tersesat ke halaman ini.
Nah, karena saya belum punya cukup waktu untuk mempelajari, merenung dan menuliskan sesuatu yang menurut standar saya layak-tayang, cukuplah pada post ini saya tuliskan beberapa “highlights” dari kehidupan saya belakangan ini. Jelas ini nggak akan menarik untuk dibaca, tapi siapa tahu aja ada penggemar setia saya di luar sana yang rutin mengunjungi web ini yang bertanya-tanya ada apa gerangan sehingga saya hampir satu triwulan tidak meng-update blog ini.
Yang pertama, pada bulan Februari yang lalu, kontrak saya untuk “berbagi-ilmu” di Politeknik Informatika Del, berakhir. Atas berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk tidak memperbaharui kontrak tersebut sehingga pada bulan Maret saya akhir meninggalkan tanah Sumatera untuk kembali ke Jawa.
Beberapa bulan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar bahwa saya diterima di sebuah program master di Technische Universiteit Eindhoven, Belanda. Karena cukup yakin bahwa peluang saya untuk mendapatkan beasiswa di sana cukup besar, sekembalinya ke Malang, kota kelahiran saya dan tempat di mana keluarga saya berada, saya mulai mencari informasi tentang kursus bahasa Belanda di Malang.
Malangnya, karena sepi peminat, kursus-kursus bahasa Belanda yang dulu cukup banyak bertebaran di Malang kini sudah tak jelas rimbanya lagi. Namun demikian, akhirnya saya berhasil mendapatkan seorang guru yang bersedia mengajari saya bahasa Belanda di sebuah klub percakapan bahasa Belanda yang ada di Malang.
Selain itu, saya juga mulai belajar berenang, satu keahlian dasar yang sejak dulu ingin saya pelajari tetapi selalu gagal karena satu dan lain hal. Kebetulan, di clubhouse perumahan tempat tinggal saya ada kolam renang dengan tarif yang tidak terlalu mahal dan ada instruktur renang yang hampir tiap hari memberikan pelatihan di sana.
Berkat kedua “kursus” ini, praktis tidak banyak lagi waktu luang yang saya miliki. Setiap pagi, setelah sarapan dan mandi, saya berangkat les bahasa Belanda di sebuah kawasan yang cukup jauh dari rumah. Usai belajar, saya kembali ke rumah untuk makan siang dan istirahat sejenak lalu berangkat menuju kolam renang untuk berlatih hingga petang. Sesudah itu, saya kembali ke rumah untuk beristirahat, mandi, dan makan malam. Waktu setelah makan malam biasa saya luangkan untuk mengecek email-email yang masuk, membalas jika perlu, dan membaca-baca berita. Setelah itu saya pun tidur. Esoknya, siklus yang sama pun berulang.
Sesekali, tentu siklus tersebut harus saya “rusak” untuk melakukan hal-hal yang lebih “urgent”, misalnya membuat kutipan kedua akte kelahiran untuk persiapan bila kelak saya jadi berangkat ke Belanda. Seperti biasa, hal-hal birokratis semacam ini selain menyita waktu juga kerap terasa menyebalkan karena prosedurnya sering berbelit-belit, tidak praktis. (Dan pada beberapa kasus, sangat aneh bin ajaib…)